Netanyahu dan Abbas Berjabat Tangan Saat Pemakaman Peres

Avi Ohayon/GPO/Flash90 Dari kiri ke kanan: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Presiden AS Barack Obama dan Presiden Palestina President Mahmoud Abbas selama pertemuan trilateral di New York, AS, 22 September 2009.

JERUSALEM, KOMPAS.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmud Abbas berjabat tangan dan berbicara sejenak saat pemakaman Shimon Peres, Jumat (30/9/2016).

Pertemuan publik seperti itu sangat jarang terjadi di antara mereka berdua, yang selama ini memiliki hukungan yang tidak harmonis karena okupasi Israel atas beberapa wilayah Palestina di Tepi Barat.

Mereka berjabat tangan saat keduanya bertemu di tengah kerumunan massa perkabunan sebelum pemakaman Peres dimulai, seperti dilaporkan Agence France-Presse.

Pertemuan itu merupakan momen yang pertama sejak keduanya berjabat tangan pada pertemuan tingkat tinggi iklim di Paris, Perancis,  November 2015.

"Senang bertemu dengan Anda. Sudah cukup lama," kata Abbas dalam bahasa Inggris, sebagaimana dapat disimak publik lewat video yang diunggah oleh juru bicara Netanyahu.

Netanyahu dan istrinya mengucapkan terima kasih atas kedatangan Abbas.

Pertemuan publik yang berskala besar terakhir antara Abbas dan Netanyahu terjadi pada tahun 2010, meski ada laporan yang belum dikonfirmasi dari pertemuan rahasia sejak saat itu.

Abbas membuat perjalanan langka ke Jerusalem dari markasnya di Ramallah, Tepi Barat.

Ia bergabung bersama puluhan pemimpin dunia memberikan penghormatan terakhir pada pemakaman mantan Presiden Israel dan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Shimon Peres.

Pada Rabu lalu, begitu mendengar kematian Peres, Abbas mengirim pesan turut berbelasungkawa kepada keluarga berdua.

Ketika itu Abbas memuji “Peres sebagai mitra yang berani memperjuangkan perdamaian bagi Palestina dan Israel bersama mendiang Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin”.

“Ia melakukan usaha tak henti-hentinya untuk menciptakan perdamaian abadi sejak Perjanjian Oslo (1994) sampai menjelang akhir hayatnya," kata Wafa mengutip Abbas.

Namun, kematian Peres disambut gembira oleh kelompok Hamas yang menguasai Jalur Gaza. Kelompok Hamas juga menyebut Peres sebagai seorang penjahat.

Editor: Pascal S Bin Saju


Sebelumnya Selanjutnya