Liburan Berkesan di Primadona Papandayan Terpopuler di Instagram

Liputan6.com, Jakarta "Puncak bukanlah segalanya. Takkan lari gunung dikejar." Begitu percakapan kami saat memutuskan untuk bermalam di Gunung Papandayan atau kembali ke Papandayan Camping Ground akhir pekan lalu. Sebab jadwal pendakian pukul 06.00 WIB terpaksa molor karena kemacetan saat perjalanan di Garut.

Ya, kami sampai di Papandayan Camping Ground (PGC) sekitar pukul 06.00 WIB setelah bertolak dari Jakarta sepulang kantor sekitar pukul 21.00 WIB. Kami lebih dulu menikmati kemacetan sepanjang perjalanan ke Garut, sebelum menikmati keindahan alam di kota yang dikelilingi pegunungan, Garut, Jawa Barat.

Di sini kami terbagi dua tim, yang akan naik ke Gunung Papandayan dan yang tinggal di Papandayan Camping Ground. Setelah mengisi perut dan beristirahat sejenak, tim yang akan mendaki Gunung Papandayan pun siap berangkat. Karena tidak menginap, barang bawaan untuk naik bisa ditinggal di PGC untuk meringankan beban.

Papandayan Camping Ground sendiri terletak di di Kampung Nangklak, Kecamatan Cisurupan. Tak jauh dari pintu masuk Gunung Papandayan. Kurang lebih menempuh 10 menit perjalanan. Meski baru dibuka April 2016, Papandayan Camping Ground langsung menjadi primadona. Sekitar 7.000 orang sudah merasakan sensasi menikmati Gunung Papandayan dengan cara berbeda tanpa kehilangan keindahannya.

Meski menamakan dirinya camping ground, PGC tak hanya menyediakan lahan untuk kemping. PGC
menyediakan sensasi bermalam di rumah pohon dan cabin.

Bagi yang ingin kemping tanpa ribet, PGC juga menyediakan seluruh persediaannya. Mulai dari
tenda sampai dome. Namun jika membawa tenda sendiri, dikenakan biaya Rp 100 ribu untuk
menyewa lahan.

Kontur tanah berbukit alami menjadi kelebihan PGC. Pengaturan cabin yang berbaris di sebelah
kiri dan rumah pohon di kanan juga makin mempercantik panorama PGC yang sudah terlihat dari pintu
masuk di resepsionis. PGC juga mempunyai area parkir luas untuk menampung kendaraan Anda.

Kami merasakan semuanya. Bermalam di rumah pohon, cabin, dan tenda. Yang membedakan adalah
kapasitas dan fasilitas toilet. Cabin bisa diisi 3-4 orang sementara rumah pohon dapat
menampung 5-6 orang. Fasilitas toilet hanya tersedia di rumah pohon yang terletak persis di bawahnya.

Rumah pohon juga mempunyai balkon di bagian depan lengkap dengan tempat duduk dan meja. Kami
bisa duduk santai dengan kaki menggantung. Atau bercengkerama lebih private di balkon belakang.
Tersedia juga kursi dan meja di bawah rumah pohon. Menyenangkan!

Soal kebersihan juga memuaskan. Dari seprai, sarung bantal, dan selimut yang diganti saat ada
pengunjung baru. Begitu juga dengan kebersihan toilet. Jangan lupa membawa perlengkapan mandi
karena tidak tersedia di sini.

Fasilitas lain yang didapat saat menyewa cabin dan rumah pohon adalah kasur busa, sleeping bag,
air panas di termos, dan LED lamp. Berbicara tentang lampu, PCG sengaja meminimalisir
penggunaan lampu agar memaksimalkan pengalaman kemping di hutan.

"Tadinya kami memakai lampu sorot, tapi sekarang lampu minyak hanya disediakan untuk yang
menginap. Meski nginap nyaman di rumah pohon atau cabin, tapi suasana tetap hutan dan alam,"
cerita Indra Apriyadi, Owner Papandayan Camping Ground saat menemani kami berkeliling.

Saat berkeliling, terlihat banyak pasangan muda, teman-teman se-geng, keluarga, dan calon pengantin yang memadati area PGC. Mereka asyik berburu foto di berbagai spot.

Mulai di atas menara, ayunan yang menyebar, sampai spot yang disediakan untuk melihat kota Garut. Kami tak sabar menunggu saat malam untuk melihat city light Garut.

"Kalau kata anak sekarang pemandangan di sini instagramable. Banyak orang yang tahu tempat ini
dari instagram. Jadi enggak perlu menginap tetap bisa menikmati indahnya PGC," lanjut Indra.

Obrolan ngalor-ngidul sambil menyesap udara sejuk di alam yang mewah pun tersadarkan dengan
perut yang mulai lapar. Kami pun memesan nasi goreng kotak ala PGC. Rasa kecapnya yang beda
menambah lezat nasi goreng dengan irisan cabai merah di atasnya. Makin lengkap dengan kriuk kerupuk kulit.

Di depan PGC ada beberapa warung makan dengan berbagai varian menu. Ada bakso tahu, jajanan
gorengan, dan berbagai rebusan. Di sini juga tersedia dapur yang bisa dipakai bersama. Lengkap dengan kompor dan peralatan untuk memasaknya. Jadi jangan ragu untuk membawa bahan makanan dari rumah untuk diolah.

Benar seperti kata Indra, lepas Maghrib, saat matahari terbenam, PGC seperti gulita. Teh Irvan, petugas yang berjaga malam itu dengan sigap menaruh lampu minyak di rumah pohon dan kursi tempat kami mengobrol. Tak lama rombongan yang mendaki Gunung Papandayan pun tiba kembali di PGC.

Hujan seharian mengguyur mereka membuat kedinginan. Meski dingin tak menghalangi untuk
membersihkan badan dengan air pegunungan. Air mandinya dingin luar biasa tapi bikin nagih. Hehehe...

"Enak banget ada PGC, setelah letih mendaki gunung, kita bisa recovery nginap di sini. Meski
enggak kemping, tapi tidur rumah pohon atau cabin Tetap enggak kehilangan nuansa pegunungan dan alam. Bahkan bonus lihat city light," timpal Rocky.

Sayangnya kondisi hujan seharian membuat tanah basah dan licin. Kami harus berhati-hati karena
penerangan yang minim. Semoga kelak saat kembali sudah ada penerangan untuk jalan setapak.

Setelah merasakan dingin yang menggigil meski sudah masuk sleeping bag, selalu ada kehangatan
yang tercipta saat mentari datang. Begitu juga pemandangan sunrise yang memukau. Ya, panorama
citylight berganti dengan semburat jingga yang membuat semua terpana.

Kita bisa kembali berkeliling dengan nuansa yang berbeda. Saat semburat orange memudar,
berganti dengan langit biru sempurna dan awan putih yang manja.

Momen kebersamaan pagi, kami awali dengan memasak sarapan bersama. Sambil bercengkrama, kita
bisa main ayunan ekstrem dengan bagian bawah tebing dan pemandangan memukau gunung Papandayan.

Tak lama berduyun-duyun orang kembali berdatangan karena penasaran dengan magnet spot foto kece
PGC yang dilihatnya dari instagram. Rasanya kami pun masih ingin berburu foto keren di segala penjuru. Namun aktivitas lain masih menunggu di ibu kota Jakarta.

Bagi yang memutuskan mendaki gunung Papandayan atau tidak, rasanya sama senangnya saat semua sudah berkumpul di Papandayan Camping Ground. Semoga bisa kembali dan berkumpul lagi di sini.

Sebelumnya Selanjutnya